PERTAHANAN DAN KEAMANAN

PERTAHANAN DAN KEAMANAN
Home » » Mi-1 (H-21) di Monumen Lanud Ats Pindah Rumah Baru

Mi-1 (H-21) di Monumen Lanud Ats Pindah Rumah Baru

Written By portal komando on 4 Agt 2017 | 8:34 AM

Keterangan gambar: Proses pengerjaan pengangkatan dan pemindahan Mi-1 (H-21) dari monumen Lanud Ats ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogjakarta (atas)

Keterangan gambar: H-21 telah diturunkan dari atas monumen Lanud Ats untuk dipindahkan ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogjakarta (tengah)

Keterangan gambar: H-21 telah masuk di hanggar Skatek 024 Lanud Ats untuk dirapihkan sebelum dipindahkan ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogjakarta (bawah)

PK,.BOGOR,.Lanud Atang Sendjaja, Kamis (3/8) ,.Sebuah helikopter yang terpajang gagah dan kokoh di atas tugu sebagai monumen dan telah menjadi icon, ketika memasuki wilayah Lanud Atang Sendjaja, kini akan menempati rumahnya yang baru di Museum Pusat TNI AU, Dirgantara Mandala Yogjakarta. Jenis helikopter dimaksud, yang dijadikan sebagai monumen di Lanud Ats, adalah sebuah Mi-1 atau yang juga dikenal dengan sebutan SM-1 dengan nomor body H-21.

Menurut catatan sejarah tentang Mi-1 ini, disebutkan bahwa berawal dari perjanjian kerjasama antara Uni Soviet dengan Polandia ditandatangani tahun 1954 untuk memroduksi helikopter Mi-1 di bawah lisensi. Menjelang akhir tahun 1955 produksi pertama dengan menyandang nama SM-1 keluar pabrik meskipun hampir semua komponen termasuk mesin buatan Ivchenko dikirim dari Uni Soviet.

Namun di tahun 1957, WSK-PZL mengeluarkan varian SM-1/300 yang telah mengadopsi mesin baru Lit-3 buatan dalam negeri. Dua tahun berikutnya lahir SM-1/600 yang menggunakan mesin AI-26V yang lebih bertenaga. Oleh karena itu, jalur produksi untuk seluruh varian SM-1 mulai dihentikan pada bulan Desember 1965.

Heli mungil ini memang terbukti bandel dengan usia pakai yang lama, bahkan beberapa unit SM-1 masih terlihat terbang hingga tahun 1983. SM-1 termasuk salah satu alutsista yang dibeli pada era Presiden Sukarno untuk digunakan dalam kampanye pembebasan Irian Barat (Opersai Trikora).

Indonesia kemudian membeli delapan unit SM-1 dari Polandia yang datang mulai tahun 1958–1959. Bersamaan dengan SM-1, dibeli pula 40 pesawat tempur LIM-5 (MiG-17) dan sejumlah kecil pesawat serang ringan Avia B-33 (Ilyushin Il-10). Kedatangan helikopter SM-1 itu juga membawa serta seorang instruktur terbang bernama Richard Widskorsky. Ia turut membantu mendidik dan melatih dua orang pilot dalam negeri yakni Soewoto Soekendar dan Ashadi Tjahjadi untuk mengawaki SM-1 tersebut.

Tahun 1965, Skadron 7 dibentuk sebagai wadah untuk menampung delapan unit SM-1 dan dua Bell-47J serta sebuah Mi-4. Helikopter di Skadron 7 bertugas sebagai heli angkut khusus mendukung kegiatan kepresidenan dan heli latih yang bermarkas di Lanud Semplak (sekarang Lanud Atang Sendjaja). Tahun 1961 lantaran semakin banyaknya heli yang memperkuat TNI AU, maka Skadron Helikopter ditingkatkan menjadi Skadron 6 yang diperkuat oleh 22 buah Mi-4.

Dengan perannya sebagai helikopter ringan angkut khusus dan latih, maka dapat dimaklumi bila SM-1 tidak dilibatkan dalam operasi-operasi militer yang terjadi pada masa tahun 1960-an. Namun setidaknya sebuah peran SM-1 tercatat dalam operasi kemanusian pada bulan November 1965 dalam evakuasi kapal Corval berbendera Norwegia yang kandas di pantai selatan Ujung Kulon.

Masa bakti SM-1 di Tanah Air tidak berlangsung lama seperti halnya pesawat terbang dan helikopter yang didatangkan dari Blok Timur yang mengalami kesulitan dalam pengadaan suku cadang. Pasca pecahnya pemberontakan G30S, seluruh SM-1 dinyatakan non operasional pada tahun 1970. Beruntung, dari delapan unit yang ada, masih tersisa sebuah SM-1 yang dijadikan monumen tepat di gerbang masuk Lanud Atang Sendjaja, Bogor. Walaupun kini Skadron Udara 7 telah bergeser ke Lanud Suryadarma, SM-1 (H-21) tetap bertengger di tempatnya dengan tenang.

Kini pesawat yang sudah puluhan tahun menjadi monumen di pintu masuk Lanud Ats dan jadi icon bagi masyarakat di Bogor, akan mengalami kepindahan tempat bertengger yaitu di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogjakarta.

Karena pesawat SM-1/Mi-1 (H-21) adalah pesawat bersejarah bagi TNI Angkatan Udara, oleh sebab itu sudah saatnya ditempatkan pada tempat penyimpanan benda-benda bersejarah yaitu museum, dimana seluruh warga negara Indonesia dapat berkunjung, melihat dan belajar tentang perjalanan sejarah pesawat tersebut. 

Oleh sebab itu, Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P, memerintahkan agar pesawat Mi-1 (H-21) dipindahkan dari Lanud Ats untuk ditempatkan di Museum Pusat Angkatan Udara, Dirgantara Mandala sebagai sebuah bukti peninggalan bersejarah di TNI Angkatan Udara. Komandan Lanud Ats, Marsma TNI Irwan Is. Dunggio, S.Sos., segera menindaklanjuti perintah tersebut dengan memimpin langsung pengerjaan pelepasan helikopter Mi-1 (H-21) dari atas tugu tempat terpajangnya untuk dipindahkan ke museum Dirgantara Mandala Yogjakarta.

Keberadaannya yang sudah sangat lama bertengger sebagai monumen di Lanud Ats, sedikit menyulitkan pelepasannya, namun dengan semangat dan kerja keras serta didorong oleh motivasi pengabdian yang tinggi dari Komandan Skatek 024, Letkol Tek Harjanto beserta tim, akhirnya H-21 dapat dilepas dari tempatnya, untuk selanjutnya akan dibawa ke Museum Pusat TNI AU, Dirgantara Mandala Yogjakarta.

Dimanapun engkau berada, engkau akan tetap dikenang, dan semoga akan ada heli jenis lain yang sudah tidak dapat dioperasikan lagi secara permanen, dapat dijadikan monumen di tempat ex H-21, sehingga icon “tugu heli” tetap menjadi tanda pengenal ketika memasuki wilayah Lanud Ats.





Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2016 - All Rights Reserved
Created by Portal-Komando