Home » » Dies Natalis Ke-9 Unhan, Harapan Dan Tantangan

Dies Natalis Ke-9 Unhan, Harapan Dan Tantangan

Written By portal komando on 14 Mar 2018 | 5:00 PM


Bogor, PK- Dalam kurun waktu 9 tahun, Universitas Pertahanan (Unhan) telah memiliki Akreditasi "A" dari Badan Akreditasi Nasional pada tahun 2016 lalu yang tentunya diperoleh dengan kerja keras dan sungguh-sungguh dari semua pihak dalam mendukung pencapaian yang memuaskan tersebut. Demikian dikatakan Rektir Unhan, Mayje TNI Dr. Yoedi Swastanto, M.B.A pada acara hari lahir (Dies Natalis) yang ke-9 di Auditorium Unhan, Kawasan IPSC, Sentul, Bogor, Rabu (14/3). "Kami berharap para pengelola dan segenap civitas akademika berpikiran maju, komprehensif dan holistik dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing-masing dalam kerangka pencapaian visi dan misi Unhan" tururnya kepada sejumlah awak media. 
 
Saat ini, sambungnya, Unhan juga telah memiliki 17 prodi, 3 diantaranya telah terakreditasi "A" yakni, prodi Strategi Perang Semesta, Damai dan Resolusi Konflik dan prodi Manajemen Bencana. "Namun ada tugas lain yang haruss kita emban bersama yaitu harus kita pertahankan akreditasi itu pada 2021 dan sebagai rangkaian menuju world class university" pungkasnya. 
 
Selain diisi dengan pemberian pengjargaan lepada Guru Besar dan dosen Unhan serta sertifikat akreditasi prodi Manajemen Bencana Fakuktas Keamanan Nasional, dalam Dies Natalis ke-9 kali ini juga diisi dengan orasi ilmiah Dekan Fakultes Manajemen Pertahanan (FMP) Unhan, Laksda TNI Dr. Amarulia Octavian, ST, M.Sc DESD tentang Modernisasi Sistem Pertahanan Udara TNI Melindungi Kebutuhar Wilayah dan Kedauiatan NKRI. Dalam Orasi ilmiahnya Dekan FMP Unhan mengatakan beberapa sektor yang memihki jangkauan maksimal radar, hanS dioperasikan minimal lima jenis radar untuk mendeteksi ketinggian rendah, sedang, tinggi, dan di Iuar angkasa serta sistem radar pasif yang hybrid. 
 
Penggunaan radar secara multi dan terintegrasi tersebut juga bermanfaat untuk meningkatkan kualitas triangulasi posisi obyek terbang sehingga dapat dihasilkan proful atau informasi dari obyek terbang secara lebih mendetaii clan akurat. Pada setiap sektor pertahanan udara harus diiengkapi pesawat pembawa radar dan komunikasi sehingga dapat dideteksi ancaman yang terbang dengan ketinggian rendah dari jarak yang jauh. "Ancaman udara saat ini mampu terbang dengan kecepatan supersonic atau hypersonic sehingga keterlambatan identifikasi dapat berakibat fatal terhadap pertahanan nasional" paparnya. 
 
Dalam kesimpulannya, Amarulia menyarankan Pemerintah bersama DPR dapat memberikan payung hukum dan alokasi anggaran yang memadai atas political will untuk menambah program pengadaan sistem deteksi dini dan sistem intercept guna melakukan modernisasi sistem pertahanan Udara ke dalam program MEP yang sudah berjalan selama ini. 
 
Kemenhan bersama Kemenhub dan Mabes TNI membangun sistem jaringan satelit pertahanan LEO (Low Earth Orbit) hingga GSO (Geo Stationer Orbit) untUk mendukung sistem command and control TNI berbasis C418R (Command, Control, Communication, Computer, Inteligence, Surveillance and Reconnaisance) di dalam konsep NCW (Network Centric Warfare). 
 
"Universitas Pertahanan dapat melanjutkan penelitian untuk menyusun cetak biru proses pengadaan dan produksi sistem deteksi dini dan sistem intercept untuk Kohanudnas secara ilmiah bekerjasama dengan Litbang BUMNIS. Penelitian lanjutan tersebut bahkan juga dapat diarahkan untuk merancang sistem pertahanan udara kawasan melibatkan partisipasi negara-negara anggota ASEAN" pungkasnya.(AD)
Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2016 - All Rights Reserved
Created by Portal-Komando