Kemampuan Bertahan Di Laut

TNI AU

PK,.Makassar , Peserta Latihan Survival Tempur Koopsau II Wanatirta Yudha Tahun 2019 mendapatkan pengetahuan dan latihan agar memiliki kemampuan bertahan di alam bebas.

Berbagai tehnik survival dipraktekkan untuk menghadapi kondisi medan yang memang beragam diantaranya, tehnik meloloskan diri, tehnik memanah, kemudian menembak pistol.

Pada hari kedua juga dilatihkan tentang tehnik survival padang atau pegunungan bagi yang tersesat di padang yang luas dan pegunungan, tehnik survival hutan rimba (jungle survival) bagi yang mengalami musibah atau tersesat di rimba daratan atau hutan rimba, survival gurun dan lain sebagainya. dengan tujuan untuk memulihkan kembali hubungan dengan lingkungan masyarakat, begitu juga dengan tehnik survival di laut (sea survival) yang dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan kecelakaan di laut. Oleh karena itu yang ditekankan dalam setiap tehnik survival ini adalah mempertahankan hidup lengkap dengan segenap kemampuannya dan kemudian memutuskan isolasi yang menghambat komunikasi dengan masyarakat umum.

Dilihat dari kondisi alam Indonesia maka pengetahuan survival ini harus disesuaikan, juga dengan iklim tropis yang ada di negara kita.

Di Indonesia daerah yang akan ditemui adalah : hutan belantara, rawa, sungai, padang ilalang, gunung berapai dan lain sebagainya.Ada beberapa permasalahan yang akan di hadapi, yaitu masalah / bahaya yang ada di alam (bahaya obyektif), masalah yang menyangkut diri kita sendiri (bahaya subyektif).

Ada beberapa aspek yang akan muncul dalam menghadapi keadaan darurat antara lain : 1.Aspek Psikologis : panik, takut, cemas, kesepian, bingung, tertekan,bosan, putus asa dll.Pengaruh psikologis yang disebabkan karena perasaan terasing. 2.Aspek Fisiologis : sakit, lapar, haus, luka, lelah, dll.

Pengaruh Fisikologis yang disebabkan karena kelelahan, dan kurang tidur dan 3.Aspek Lingkungan : panas, dingin, kering, hujan, angin, vegetasi, fauna, dll.Pengaruh lingkungan yang disebabkan karena beratnya medan. Ada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam melakukan survival seperti ada ancaman dari cuaca buruk, ancaman dari binatang, kekurangan makanan dan minuman, penyakit yang tiba-tiba menyerang seperti demam, diare, sakit kepala dan lain-lainnya.

Baca Juga :  Angkasa Yudha 2019, Kasau Tinjau MOT di Lanud Iswahjudi

Dalam latihan survival ini dilatihkan dua bentuk survival yaitu survival individu dan survival kelompok, dalam survival individu atau sendiri, seseorang akan merasa kesepian dan bosan selain rasa takut dan panik. Kesepian dan bosan adalah masalah besar yang harus segera diatasi dan dihindarkan bila seseorang terpisah dari kelompoknya Karena hal tersebut akan dapat membuat perasaan tertekan yang bisa menghilangkan semangat dan keinginan untuk hidup. Kesepian dan bosan hanya bisa ada dalam suatu lamunan yang disetujui oleh tindakan dan pikiran.

Maka untuk mengatasinya sesorang harus melakukan pekerjaan dengan memanfaatkan kondisi alam yang ada misalnya kalau berada di laut maka dia akan memancing, kalau di hutan rimba dia mencari buah atau umbi-umbian yang bisa di makan, dan lain-lainnya hal ini akan bisa menghindarkan diri dari rasa sepi dan bosan.

Sedangkan untuk Survival kelompok lebih baik dari pada survival sendiri, karena tersedianya banyak tenaga untuk melakukan pekerjaan dan adanya teman untuk berkomunikasi yang dapat menghilangkan rasa sepi dan bosan. Namun, yang perlu diketahu bahwa setiap orang tidak akan sama dalam menghadapi keadaan darurat.

Dalam keadaan ini kecenderungan orang akan bertindak untuk kepentingan dirinya sendiri dengan mengabaikan kepentingan Bersama atau kepentingan kelompok, oleh karena itu dalam latihan ini diajarkan juga bentuk kerjasama kelompok bila menghadapi keadaan darurat. Untuk menjaga hal tersebut, dan kebersamaan tetap terkontrol maka sebaiknya dipilih seorang pemimpin untuk mengkoordinasikan setiap anggota dalam kelompok. ( Dodik )