Satgas Pamtas Yonif 403/WP Mengajak Masyarakat dengan Cerdas Mengatasi Maraknya Berita Hoax di Distrik Serambakon Kab.Pegunungan Bintang Papua

TNI AD

PK,.PEGUNUNGAN BINTANG, – Pada hari pertama minggu ini dunia maya dimunculkan informasi dan berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah “hoax” oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggungjawab ditujukan terhadap keberadaan Pos TNI di Kampung Seramkatop, Distrik Serambakon, Papua, Selasa, (15/06/2021)

Hal tersebut disampaikan Dansatgas Pamtas Yonif 403/Wirasada Pratista, Letkol Inf Ade Pribadi Siregar, S.E., M.Si., dalam rilis tertulisnya di Kabupaten Keerom, Papua. Selasa, (15/06/2021).

Dansatgas mengatakan dengan menyimak dan membaca harian berita yang dirilis tribun papua https://tribunpapua.id/2021/06/15/laporan-dari-distrik-serambakon-penjarahan-barang-milik-warga-selama-1-2-tahun/ tertulisnya sejak tanggal 15 Juni 2021 beredar di media online yang menyebutkan tentang adanya isu yang berjudul “Laporan dari Distrik Serambakon: Penjarahan Barang Milik Warga Selama 1,2 Tahun” yang isinya tentang blokade dan penjarahan hasil bumi milik warga tertulisnya dilakukan oleh aparat TNI selama 1 tahun 2 bulan mulai dari tanggal 7 April 2021 sampai dengan bulan Juni, hal tersebut “kami nyatakan tidak benar atau palsu (hoax),” oleh karena itu Satgas Pamtas Yonif 403/Wirasada Pratista mengajak masyarakat dengan cerdas menyikapi, mengkonfirmasi bahkan menghindari maraknya berita hoax yang baru-baru ini terjadi khususnya di Kampung Seramkatop, Distrik Serambakon, Papua.

“Jika tidak ada kehati-hatian, masyarakat atau warga online (netizen) pun tidak luput dari tipuan hoax tersebut dan jangan sampai kita ikut menyebarkan informasi palsu itu, tentunya akan sangat merugikan bagi pihak korban fitnah, oleh karenanya kami mengajak masyarakat pada umumnya atau netizen untuk menjadi pembaca yang cerdas dalam menyikapi berita palsu tersebut dan kita pedomani peraturan perundang-undangan Nomor 19 Tahun 2016 yang mengatur tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) sebagai alas pijak kita dalam berbagi informasi elektronik,” ujar Dansatgas.

Ditempat terpisah, Danpos Serambakon Satgas Pamtas Yonif 403/Wirasada Pratista Letda Inf Prayitno menyampaikan bahwa, kegiatan prajurit Pos Satgas bersama masyarakat sampai dengan saat ini masih tetap berlangsung dengan baik terutama kegiatan dibidang kesehatan, karena mengingat kondisi cuaca pada akhir-akhir ini terkadang panas dan tiba-tiba hujan (tidak kondusif) sehingga tidak sedikit warga yang mengalami keluhan kesehatan seperti sakit kepala, sakit pada bagian persendian, sesak nafas, bahkan batuk dan pilek sehingga Tim Kesehatan Pos Serambakon Satgas Pamtas Yonif 403/Wirasada Pratista memberikan bantuan pelayanan kesehatan dan pengobatan kepada warga yang mengalami sakit serta mengajak masyarakat untuk tetap sehat.

Baca Juga :  Tempuh Jalan Kaki 54 km, Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Raider 514/SY Layani Kesehatan Warga Puncak.

“Kami Pos Serambakon Satgas Pamtas Yonif 403/Wirasada Pratista bersama masyarakat sampai dengan saat ini masih tetap menggelar kegiatan bersama terutama kegiatan dibidang kesehatan, mengingat kondisi cuaca yang kurang kondusif saat ini terkadang panas dan tiba-tiba hujan membuat warga banyak mengalami keluhan kesehatan seperti sakit kepala, sakit pada bagian persendian, sesak nafas, bahkan batuk dan pilek sehingga Tim Kesehatan Pos Serambakon Satgas Pamtas Yonif 403/Wirasada Pratista dengan segera memberikan pertolongan berupa pelayanan kesehatan dan pengobatan kepada warga yang sakit,” kata Danpos.

Sejalan dengan itu, Pakum Satgas Pamtas Yonif 403/Wirasada Pratista Lettu Chk Hendra Iskandar, S.H., M.H., menyampaikan bahwa Indonesia sebagai negara hukum sudah seyogyanya kita sebagai warga negara yang baik taat dengan hukum oleh karena itu mari kita pedomani ketentuan hukum berdasarkan Undang-Undang ITE Nomor 19 Tahun 2016 Pasal 27 ayat (3) yang berbunyi “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” Dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun, selain itu juga mengajak dan menyampaikan kepada masyarakat atau warga online (netizen) untuk tidak mudah percaya dengan berita yang memiliki ciri-ciri seperti memuat judul yang provokatif, alamat situs yang belum terverifikasi secara resmi, belum termuatnya fakta, keaslian fotonya diragukan dan selalu ikuti grup diskusi anti-hoax.

“Oleh karen itu kami mengajak masyarakat dan warga online (netizen) untuk mengikuti beberapa langkah yang kami kutip dari Ketua Masyarakat Anti Hoax Bapak Septiaji Eko Nugroho yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana berita asli yaitu sebagai berikut:

Baca Juga :  Yonarmed 1/Divif 2 Kostrad Menerima Kunjungan Dari Ditfasjas Ditjen Kuathan Kemhan RI

1. Hati-hati dengan judul provokatif, berita hoax sering menggunakan judul sensasional yang provokatif misalnya dengan langsung menunjuk jari ke pihak tertentu, oleh karenanya, sebaiknya kita mencari referansi berupa berita serupa dari situs online resmi kemudian bandingkan isinya sama atau berbeda.

2. Cermati alamat situs, apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

3. Periksa fakta, perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari istitusi resmi seperti KPK, TNI, Polri sebagai sumber yang dipercaya? Sebaiknya jangan cepat percaya dengan informasi di luar institusi resmi karena terdapat perbedaan antara fakta dengan opini, karena fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subjektif.

4. Cek keaslian foto, cara pengecekan keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikut serta grup diskusi anti-hoax, di grup-grup diskusi ini netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain, grup tersebut layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.” ujar Pakum. (Pen Satgas Yonif 403/WP)

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of