Sebagai Orang Nomor Satu Di TNI AU, Marsekal TNI Yuyu Sutisna Tinggalkan segudang Prestasi Jelang Masa Pensiun.

TNI AU

PK-JAKARTA. —- Jelang masa pensiun sekaligus mengakhiri masa jabatannya sebagai orang nomor satu di TNI AU, Marsekal Yuyu Sutisna, S.E, M,M. digantikan Marsda TNI Fadjar Prasetyo, Rabu, (20/5). Serah terima jabatan tersebut berlangsung di Istana Negara dipimpin langsung Presiden Joko Widodo secara terbatas dan disiarkan secara langsung melalui jejaring sosial media TNI AU.

Marsekal Yuyu Sutisna sebagai KSAU ke-22 akan mengakhiri pengabdianya di TNI AU yang akan memasuki usia genap 58 tahun pada 10 Juni 2020 mendatang, dengan serah terima jabatan ini, maka berakhir pula karier Marsekal Yuyu Sutisna di TNI.

Putra kelahiran asli bandung 58 tahun silam ini, mengawali kariernya dari letnan dua hingga meraih posisi tertinggi di TNI AU sebagai KSAU, yaitu melalui Penerbang tempur pesawat F-5E/F Tiger II. Posisi puncak ini mengukir histori bersama Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Yuyu Sutisna tercatat sebagai KSAU yang sama-sama dari alumni 1986. Prestasi gemilang ini pernah terjadi pada alumni AAU 73, yaitu Marsekal Djoko Suyanto dan Marsekal Herman Prayitno, artinya satu angkatan dua orang bisa menjadi KSAU dan Panglima TNI, peristiwa ini hampir langka.

Yuyu Sutisna menyelesaikan Sekolah Penerbangnya di Lanud Adisutjipto setahun kemudian. Ia terpilih masuk ke Skadron Udara 14 yang mengawaki pesawat F-5. Sebagai penerbang muda yang memilih callsign “Lion”, Yuyu menorehkan prestasi hingga meraih jabatan Komandan Skadron pada tahun 2001- 2003. Selama penugasan di Skadron 14 membuatnya meraih badge 2.000 jam terbang, hingga total jam terbang yang diraihnya mencapai 4.250 jam terbang di pesawat F-5, Hawk Mk-53 serta di pesawat latih AS-202 Bravo dan T-34C Charlie.

Yuyu Sutisna termasuk putra terbaik TNI AU, dalam setiap pendidikan yang diikuti selalu The Best, baik sekolah penerbang, Sekkau, Seskoau, Sesko TNI. Sehingga mengantarkan berapa jabatan strategis diraihnya sebelum dinobatkan menjadi KSAU. Jabatan yang telah diembanya meliputi Atase Pertahanan RI di Kedubes RI Washington DC, Amerika Serikat, Komandan Lanud Iswahjudi, Pangkoopsau I, Pangkohanudnas, Wakil KSAU dan KSAU.

Tidak hanya bicarakan karier Yuyu sebelumnya di skadron, kepiawaian Yuyu dalam berkomunikasi selama menjadi KSAU pantas diacungi jempol, dalam banyak kesempatan, Yuyu bisa dengan fasih membeberkan rencana pembangunan kekuatan TNI AU secara lengkap dan detail.

Pejabat yang sangat dekat dengan teman-teman jurnalis tersebut, sangat luwes dan fleksibel serta kemampuanya dalam menjawab berbagai persoalan terkait TNI AU, hingga menyebabkan para awak media kehabisan pertanyaansetelah mendengar penjelasan mantan Kasau tersebut.

Kedekatan dan keramahannya kepada rekan-rekan wartawan, akan menjadi kenangan abadi dan terindah di setiap relung batin awak media sepanjang masa.

Segudang pengabdianya kepada negara dan rakyat Indonesia, ketika Marsekal Yuyu menceritakan upaya TNI AU membantu penanganan gempa bumi dan tsunami di Palu tahun 2018 di ruang VIP Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta (19/3/2019).

Tidak terhitung jumlah sorti yang dijalankan pesawat C-130 Hercules, C295, CN235, B737 serta helikopter NAS-332 Super Puma dan EC725 Caracal. Selain itu ketika evaluasi di akhir bencana, TNI AU menemukan bahwa total jam terbang yang dijalani sangat berlebih. Menurut Yuyu, TNI AU kelebihan 2.100% jam terbang selama 2018 karena permintaan penerbangan begitu tinggi di Palu dan sebelumnya di Lombok.

Prestasi lain yang ditorehkan dan luar biasa, ketika Koharmatau yang dipimpin Marsda TNI Dento Priyono berhasil membuat dan menyalurkan 250 tandu untuk membantu evakuasi udara menggunakan pesawat TNI AU. ketika itu juga, atas dorongan KSAU, Inilah yang menyebabkan pada Rapat Pimpinan (Rapim) TNI AU 2019 di Mabes TNI AU Cilangkap, Yuyu menekankan kesiapan pesawat untuk antisipasi bencana. Ketika itu ia perintahkan kesiapan 12 pesawat Hercules setiap saat. Selain tentunya lima pesawat CN295, dua CN235, dan empat Boeing B737.

Beberapa rencana jangka panjang soal pembangunan kekuatan, Marsekal Yuyu juga berencana membangun Mako Koopsau III di Biak beserta satuan di bawahnya, yang meliputi Skadron Udara 33 Hercules di Makassar, Skadron Udara 27 di Biak, Skadron Udara 9 helikopter di Papua serta pembentukan Lanud TNI AU di Wamena dan Saumlaki. Selain itu juga tidak menepis rencana pemerintah membentuk skadron pesawat tanpa awak (UAV) di Timika dan Natuna.

Di masanya marsekal Yuyu mengatakan TNI AU akan membeli sejumlah pesawat yaitu enam pesawat amfibi Canadair CL-415 dari Kanada. Pesawat ini akan digunakan untuk operasi pemadaman kebakaran, selain tentunya untuk kepentingan operasi militer.

Selain itu tambahan tiga helikopter EC725 Caracal sehingga total 11 pesawat. Lalu sembilan pesawat Cassa NC-212, enam radar, dan C-130J Hercules.

Menurutnya, TNI AU akan meningkatkan kekuatan dan kemampuannya dengan membeli berbagai alutsista baru seperti pesawat tempur, pesawat angkut, AWACS, tanker, amfibi, heli, dan UAV, papar Yuyu.

Dalam bidang pemeliharaan, Kasau saat itu mampu berkolaborasi sangat strategis dengan Komandan Koharmatau Marsda TNI Dento Priyono yang juga rekannya sesama alumni AAU 86, Marsekal Yuyu mengawal begitu banyak program inovasi dan kreatif di jajaran Koharmatau. Kebetulan dua pejabat marsekal Yuyu dan Marsda TNI Dento Priyono sangat dekat dan saling memberikan kontribusi besar terhadap Bangsa melalui TNI AU.

Atas motivasi Marsekal Yuyu, Koharmatau mampu melakukan sebanyak 48 inovasi, hal ini berdampak kepada penghematan ratusan miliar uang negara. Inovasi Koharmatau yang menonjol tersebut meliputi pemeliharaan D-Check pesawat B737 TNI AU di Koharmatau, yang selama ini dilaksanakan di LN ( Taiwan, Singapore,Malaysia) dan Di GMF, Begitu juga dengan alat uji ketahanan gravitasi penerbang tempur Human Centrifuge(HC) yang berada di Lakespra dr. Saryanto, Jakarta. Dengan demikian atas dorongan Yuyu, Koharmatau berhasil menghidupkan kembali mesin buatan Latacore, Perancis ini setelah mati suri sejak sejak 2007.

Menurut Yuyu, pernah diupayakan perbaikan menggunakan teknisi dari luar negeri dengan biaya Rp 170 miliar, dan sekarang dikerjakan oleh Koharmatau hanya Rp 6 miliar saja,” imbuh Yuyu. Selain itu Yuyu pun melanjutkan program revitalisasi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) di Lanud Adisucipto, Yogyakarta.
Segudang prestasi telah ditorehkan demi kemajuan TNI khususnya TNI AU marsekal Yuyu selama menjabat KSAU. Dan tidak terhitung lagi jika ingin menyebut daftar inovasi dan kerja keras yang dilakukannya.

Beliau juga membuat trobosan yang luar biasa yang baru saja melantik terpilihnya Letda Pnb Ajeng Tresna Dwi Wijayanti, S Tr (Han) menjadi satu-satunya penerbang tempur perempuan pertama dalam sejarahTNI AU. Sehingga ini sebagai kado terindah dalam mengakhiri masa jabatanya.

Prestasi yang tidak kalah penting adalah, Marsekal Yuyu berhasil menjaga predikat “zero accident”di lingkungan TNI AU, melanjutkan prestasi yang sudah dibuat rekannya Marsekal Hadi Tjahjanto.

Dari pernikahannya dengan Ayuning Dewanti atau biasa disapa Ibu Ayu, Yuyu dikaruniai tiga putra-putri yaitu Nadya Afiefa Putri, Ipda Hafiz Prasetia Akbar, dan Annisa Elysia Pramesti. Salah satu putrinya menikah dengan Kapten Pnb Windi Darmawan yang merupakan penerbang F-16 Fighting Falcon . ( DT )

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of